Merah Itu Cinta
August 27th, 2007 by sofyariMerah Itu Cinta
Oleh : Sofyari Rahman
Pertanyaan yang harus dijawab seberapa jauh peranan dialog, dalam hal ini scenario dalam menentukan alur film?. Apakah ia dominan atau tidak. Jawaban dari pertanyaan ini menjadi relatif, karena terbukti meski pun film tersebut minim dialog bahkan dapat dikatakan tidak ada dialog, maka kita bisa memahami alur dari film tersebut. Hal ini bisa kita lihat dalam Film The Rainmaker, film tersebut minim dialog, namun bila kita mengikuti alurnya setidaknya kita akan paham mengenai jalan cerita dalam film tersebut.
Bila kita ingin bermain dengan alur film yang didominasi atas adanya scenario yang matang, maka dibutuhkan kekuatan dari para pemainnya dalam memerankan peran yang ada dan tentunya menguatkan dialog yang ada di film.
Merah itu Cinta bercerita tentang Raisa (Marsha Timothy) yang kehilangan tunangannya Rama (Yama Carlos) karena kecelakaan, dalam depresi yang mendalam Raisa berusaha melupakan semua kepedihannya, namun dalam kehampaan hidupnya, datanglah Arya (Gary Iskak) Sahabat Rama, sosoknya yang amat misterius membuat Raisa bingung harus bersikap sampai akhirnya ia menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Arya kepadanya.
Merah itu Cinta sebuah film yang bercerita hal sederhana dan klasik berusaha menggunakan kekuatan dari scenario sebagai penguat alur logika dalam film ini. Untuk mendukung hal itu maka dibutuhkan sebuah kesatuan alur yang utuh, dan juga editing yang baik, agar setiap adegannya tidak menimbulkan pertanyaan yang terlalu mendasar, seperti kenapa si dia begini?, kenapa tiba-tiba?. Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya dapat terjawab dalam sebuah film manakala sebuah film selesai. Kalaupun ia ingin meninggalkan pertanyaan di akhir cerita maka semua penjelasan awal dari mulai film diawali harus mengemuka menjadi sebuah solusi.
Film ini mempunyai kekuatan sendiri dari ide cerita yang ingin diangkat, namun karena pembawaan dari adegan filmnya terkesan sepotong-potong, sehingga kita harus merangkai film ini menjadi suatu bagian yang utuh. Film ini menjadi membingungkan, tidak tergambar dengan jelas apakah sang sutradara ingin bermain editing layaknya 21 Grams, ataukah ia hanya mencoba mempermainkan alur saja. Dalam 21 Grams meski kita menontonnya dengan kebingungan, tapi dari awal kita sudah diajak untuk merangkai setiap adegan dalam film tersebut secara utuh agar bisa menikmati filmnya.
Untuk Merah Itu Cinta kelemahan mendasar dari film ini adalah justru adegan-adegan di awal film. Penonton terus menerus dihantui pertanyaan mengenai siapakah Arya? Dan Mengapa Tiba-tiba Raisa menerima dia untuk tidur dalam rumahnya? dan mengapa Arya terus mempermasalahkan penyesalan Raisa?.Harusnya sebagian dari pertanyaan ini dapat dijawab di awal film, sehingga penonton tidak diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ending dari film memang menjadi konklusi dari kemisteriusan Arya, tapi ending ini menjadi kikuk. Meski berusaha menjawab pertanyaan dari penonton, namun karena eksekusi ending yang terlalu cepat menjadikan penonton merasa bingung dengan keseluruhan film. Dan keterkaitan semua pertanyaan tersebut menjadi makin membingungkan.
Eksperimen dari Rako dan Nova dalam menggarap adegan memang beresiko, namun mereka mengambil resiko tersebut, dan hasilnya kita bisa lihat sendiri. Penonton merasa kecewa dengan ending dan banyaknya kebetulan-kebetulan dalam film yang mengganggu.