Merah Itu Cinta

August 27th, 2007 by sofyari

Merah Itu Cinta
Oleh : Sofyari Rahman
Pertanyaan yang harus dijawab seberapa jauh peranan dialog, dalam hal ini scenario dalam menentukan alur film?. Apakah ia dominan atau tidak. Jawaban dari pertanyaan ini menjadi relatif, karena terbukti meski pun film tersebut minim dialog bahkan dapat dikatakan tidak ada dialog, maka kita bisa memahami alur dari film tersebut. Hal ini bisa kita lihat dalam Film The Rainmaker, film tersebut minim dialog, namun bila kita mengikuti alurnya setidaknya kita akan paham mengenai jalan cerita dalam film tersebut.
Bila kita ingin bermain dengan alur film yang didominasi atas adanya scenario yang matang, maka dibutuhkan kekuatan dari para pemainnya dalam memerankan peran yang ada dan tentunya menguatkan dialog yang ada di film.
Merah itu Cinta bercerita tentang Raisa (Marsha Timothy) yang kehilangan tunangannya Rama (Yama Carlos) karena kecelakaan, dalam depresi yang mendalam Raisa berusaha melupakan semua kepedihannya, namun dalam kehampaan hidupnya, datanglah Arya (Gary Iskak) Sahabat Rama, sosoknya yang amat misterius membuat Raisa bingung harus bersikap sampai akhirnya ia menyadari bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Arya kepadanya.
Merah itu Cinta sebuah film yang bercerita hal sederhana dan klasik berusaha menggunakan kekuatan dari scenario sebagai penguat alur logika dalam film ini. Untuk mendukung hal itu maka dibutuhkan sebuah kesatuan alur yang utuh, dan juga editing yang baik, agar setiap adegannya tidak menimbulkan pertanyaan yang terlalu mendasar, seperti kenapa si dia begini?, kenapa tiba-tiba?. Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya dapat terjawab dalam sebuah film manakala sebuah film selesai. Kalaupun ia ingin meninggalkan pertanyaan di akhir cerita maka semua penjelasan awal dari mulai film diawali harus mengemuka menjadi sebuah solusi.
Film ini mempunyai kekuatan sendiri dari ide cerita yang ingin diangkat, namun karena pembawaan dari adegan filmnya terkesan sepotong-potong, sehingga kita harus merangkai film ini menjadi suatu bagian yang utuh. Film ini menjadi membingungkan, tidak tergambar dengan jelas apakah sang sutradara ingin bermain editing layaknya 21 Grams, ataukah ia hanya mencoba mempermainkan alur saja. Dalam 21 Grams meski kita menontonnya dengan kebingungan, tapi dari awal kita sudah diajak untuk merangkai setiap adegan dalam film tersebut secara utuh agar bisa menikmati filmnya.
Untuk Merah Itu Cinta kelemahan mendasar dari film ini adalah justru adegan-adegan di awal film. Penonton terus menerus dihantui pertanyaan mengenai siapakah Arya? Dan Mengapa Tiba-tiba Raisa menerima dia untuk tidur dalam rumahnya? dan mengapa Arya terus mempermasalahkan penyesalan Raisa?.Harusnya sebagian dari pertanyaan ini dapat dijawab di awal film, sehingga penonton tidak diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ending dari film memang menjadi konklusi dari kemisteriusan Arya, tapi ending ini menjadi kikuk. Meski berusaha menjawab pertanyaan dari penonton, namun karena eksekusi ending yang terlalu cepat menjadikan penonton merasa bingung dengan keseluruhan film. Dan keterkaitan semua pertanyaan tersebut menjadi makin membingungkan.
Eksperimen dari Rako dan Nova dalam menggarap adegan memang beresiko, namun mereka mengambil resiko tersebut, dan hasilnya kita bisa lihat sendiri. Penonton merasa kecewa dengan ending dan banyaknya kebetulan-kebetulan dalam film yang mengganggu.

Hantu : Hantu Yang tidak Seram dan Bodoh

August 14th, 2007 by sofyari

Hantu : Hantu Yang tidak Seram dan Bodoh
Oleh : Sofyari Rahman
    Alkisah ada sebuah Telaga yang bernama Telaga Setra Wingit yang sangat misterius dan angker. Dan keangkeran ini membawa 5 orang Sahabat untuk mencari Telaga tersebut, dengan Dipimpin oleh Galih (Oka Antara), yang didampingi Ray (Dwi Andika), Rinjani (Dea Ananda), Indra (Andhika Gumilang) dan Maya (Monique Henry). Mereka berusaha menuju ke Telaga tersebut, dengan segala konsekuensinya.
    Cukup sudah kata-kata manis di atas sebagai awalan, tidak perlu dijelaskan, bahkan tidak perlu disampaikan disini ceritanya secara keseluruhan, lebih baik kita bongkar semua Kebodohan dan Ketidakseraman dari film ini, Bisa Jadi Ending cerita ini akan muncul dalam Tulisan ini,tapi itu tidak masalah, karena Endingnya memang tidak penting, bahkan kalopun diceritakan, tidak akan mengurangi rasa penyesalan anda setelah menonton, dan rasa beruntung yang anda miliki karena tidak perlu menonton.
    Film ini lemah dalam semua hal yang ada dalam Aspek sebuah Film,bila ingin dideskripsikan satu-satu, maka kita akan melihatnya dalam poin-poin berikut :
1. Alur Cerita
    Film ini menawarkan kemisteriusan sebuah hutan dan keangkerannya sebagai ide dasar cerita, tentu untuk melengkapi hal ini perlulah kiranya digambarkan adanya sekelompok remaja yang ingin berkemah ataupun mengunjungi tempat tersebut. Dan kemudian mereka bergulatlah dengan keangkeran tempat tersebut.Selain minim kejutan, yang paling parah adalah logika cerita yang ingin dibangun hampir tidak ada, Film ini hanya sekedar menyajikan perjalanan sekelompok manusia, ketempat angker, terus ketemu hantunya, satu-persatu dari mereka mati.  Film ini gagal mengangkat alur cerita yang baik. Alasan kenapa mereka kesana tidak tergambar, bahkan tidak ada penjelasan sama sekali. Dalam kengerian yang mereka rasakan terasa ganjal dan sangat lemah dari pembangunan cerita, bayangkan saja, secara tiba-tiba Rinjani menghilang dan kemudian kesurupan, tanpa ada penjelasan sama sekali kenapa ia yang menjadi target, dan kenapa tiba-tiba mereka semua diincar oleh hantunya, apa alasan utama kemunculan hantu tersebut tidak jelas. Mengesankan Film ini hanya ingin kita teriak ketakutan saja titik!!!. Dan tentunya karena logika cerita jelek, otomatis tidak ada pengembangan karakter. bahkan terkesan setiap karakter memiliki kebingungan dalam mengambil sikap dan peran. Tapi itu tidak penting, karena yang dibutuhkan hanyalah teriakan saja. Sialnya teriakan mereka juga buruk. Untungnya kita tidak perlu teriak malah kalo perlu tertawa, menertawakan kebodohan dari alur cerita. Kemudian kemunculan hantunya tidak menyeramkan sama sekali, dalam hal ini sama sekali tidak mengejutkan. Kemunculannya yang terlalu lama, maksudnya bukan lama muncul, tetapi muncul kelamaan, alias, bukan tiba-tiba, menjadikan hantu tersebut menjadi salah satu pemain kunci. Tentu ini merusak elemen kejutan, padahal elemen ini sangat penting dalam film horor.

2. Adegan
    Film ini banyak mengulang adegan agar terkesan timbul kemunculan hantu yang berulang-ulang. Dan adegan yang paling mengesalkan adalah pada saat kemunculan hantu untuk pertama kalinya, yaitu hantu tersebut Menyenggol Ray, yang sangat peduli dengan higienitas tubuh sehingga ia harus mandi, namun sayangnya dia baru menyadari bahwa higienis di Hutan itu bisa membuat kita berinteraksi dengan hantu, akhirnya pada hari berikutnya ia tidak mandi-mandi. Dan pada saat ia mandi itu ia disenggol sehingga terjatuh. Jadinya kocak banget. Bukan seram. Masih bagus d Adegan pembuka dari film ini, yaitu pada saat mereka diramalkan akan menghadapi maut oleh seorang nenek. Harusnya menjadi kunci dari film ini, bila dikembangkan, tapi sayang ucapan nenek tersebut hanya menjadi Spoiler dari Film ini. Seperti ucapannya mereka akan menghadapi maut.

3. Musik
    Film ini garapan musiknya sama sekali tidak menegangkan. Malah terkesan mellow dramatic

4. Akting
    Ini paling parah pas-pasan, masih rasa sinetron

5. Ending
    Ini yang paling parah, harusnya ending, dapat menjadi konklusi, tapi Endingnya justru mengikuti kata pepatah "Apa yang diawali buruk pasti diakhiri dengan hal buruk juga". Film ini diakhiri dengan kematian para kawanan tersebut, kecuali si Galih, yang beruntung bisa bertemu dengan Rina Hasim.

    Dan Selamat Buat HANTU anda masuk dalam Hall Of Shame Film Indonesia, SELAMAT!!!

   

Sang Dewi : Harmoni yang Tanggung

August 10th, 2007 by sofyari

Perlu kita ibaratkan bahwa permainan Tinju mirip dengan permainan musik, dia harus mengsinkronisasikan harmoni dalam tubuhnya untuk memainkan permainan dengan tujuan yang sederhana, menjatuhkan lawan. Dengan melodi yang pas, maka tarian di atas panggung akan menghibur, menggambarkan kepandaian dan kecerdasan para petinju. Mereka yang memiliki keyakinan dan mental juara akan menari dengan indahnya dan Keras, sedangkan yang lemah hanya akan terdiam tertunduk.
Harmoni inilah yang membuat tinju menjadi menyenangkan untuk ditonton, dan tentunya sebuah film juga membutuhkan kekuatan harmonisasi yang baik.
Sang Dewi bercerita tentang Beno (Volland Humonggio) pemuda bisu yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah sasana, Beno menyimpan obsesi menjadi petinju, namun karena keterbatasannya dalam berkomunikasi membuatny harus mengurungkan niatnya,meski begitu Aliang (Donny Alamsyah) selalu yakin Beno memiliki bakat menjadi petinju. Karena rasa sayang Aliang terhadap Beno, diam-diam Aliang melatih Beno. Suatu saat Aliang mengajak Beno untuk menonton pertandingan tinju gelap yang biasa dilakoninya. Namun sial bagi mereka berdua, Tempat mereka bertanding tiba-tiba sudah diintai oleh polisi, sehingga pertandingan itu bubar. Ditengah pelariannya Beno bertemu dengan Laras (Sabai Morscheck) dalam kondisi mengapung di atas air, setelah Laras ditolong oleh Berno, terkuaklah bahwa Laras bunuh diri lantaran ia merasa sudah tidak ada cinta lagi di dunia ini, dan seorang pelacur seperti dirinya tak pantas mendapatkan cinta.
Di tengah kegalauan hati Laras, Beno dengan caranya sendiri,berusaha menyakinkan Laras untuk semangat menjalani hidup. Beno berusaha menunjukkan rasa cintanya ke Laras dengan cara sederhana, namun Laras masih meragukan hidupnya, meragukan keyakinan dirinya terhadap cinta.
Memandang sekelumit cerita diatas, tergambar bahwa judul dari harmoni yang ingin dimainkan adalah mengenai Cinta, tentu harmoni semacam ini telah menjadi ikon bagi seluruh umat manusia. Ini menjadi kekuatan dan Kelemahan dalam Film garapan Dwi Ilalang ini, Ide dasar dari Film ini kuat, dan secara alur logika baik, dan hubungan antar karakter dapat tergambar jelas dalam film ini. Tapi karena tema film ini Universal, maka perlu pengembangan karakter, akting yang prima, dan dialog yang kuat diantara pemain. Karakter dalam film ini khususnya Laras dan Beno, belum dapat dimainkan dengan baik oleh kedua pemeran utama, aktingnya terlalu datar, dan pendalaman karakternya kurang kuat, sehingga ekspresi terkesan datar, kondisi ini membuat kita tidak bisa menyelami lebih jauh mengenai karakter yang ada. Ini berakibat pada beberapa adegan yang seharusnya bisa mencuri emosi penonton menjadi hambar. Karakter yang linier membuat Laras terjebak dalam ketakutannya akan cinta, dan situasi ini diulang terus menerus dalam film Situasi ini diperparah dengan dialog yang lemah dan terasa kikuk. Untunglah Aliang mampu menjadi karakter penyelamat, namun ini belumlah cukup untuk menyelamatkan film ini.
Sinematografi yang rapi menjadi nilai lebih dari film ini, meski dalam beberapa adegan terkesan dipaksakan. Amat sayang film yang telah baik dalam mengolah cerita, dilemahkan oleh permainan akting dan dialog. Kondisi ini menjadikan Harmoni Cinta yang ingin dibawa menjadi hambar dan miskin emosi, kita hanya disuguhi gambar-gambar visual yang apik.

Sang Dewi : Harmoni yang Tanggung

August 6th, 2007 by sofyari

Sang Dewi : Harmoni yang Tanggung

            Perlu kita ibaratkan bahwa permainan Tinju mirip dengan permainan musik, dia harus mengsinkronisasikan harmoni dalam tubuhnya untuk memainkan permainan dengan tujuan yang sederhana, menjatuhkan lawan. Dengan melodi yang pas, maka tarian di atas panggung akan menghibur, menggambarkan kepandaian dan kecerdasan para petinju. Mereka yang memiliki keyakinan dan mental juara akan menari dengan indahnya dan Keras, sedangkan yang lemah hanya akan terdiam tertunduk.

            Harmoni inilah yang membuat tinju menjadi menyenangkan untuk ditonton, dan tentunya sebuah film juga membutuhkan kekuatan harmonisasi yang baik.

            Sang Dewi bercerita tentang Beno (Volland Humonggio) pemuda bisu yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah sasana, Beno menyimpan obsesi menjadi petinju, namun karena keterbatasannya dalam berkomunikasi membuatny harus mengurungkan niatnya,meski begitu Aliang (Donny Alamsyah) selalu yakin Beno memiliki bakat menjadi petinju. Karena rasa sayang Aliang terhadap Beno, diam-diam Aliang melatih Beno. Suatu saat Aliang mengajak Beno untuk menonton pertandingan tinju gelap yang biasa dilakoninya. Namun sial bagi mereka berdua, Tempat mereka bertanding tiba-tiba sudah diintai oleh polisi, sehingga pertandingan itu bubar. Ditengah pelariannya Beno bertemu dengan Laras (Sabai Morscheck) dalam kondisi mengapung di atas air, setelah Laras ditolong oleh Berno, terkuaklah bahwa Laras bunuh diri lantaran ia merasa sudah tidak ada cinta lagi di dunia ini, dan seorang pelacur seperti dirinya tak pantas mendapatkan cinta.

            Di tengah kegalauan hati Laras, Beno dengan caranya sendiri,berusaha menyakinkan Laras untuk semangat menjalani hidup. Beno berusaha menunjukkan rasa cintanya ke Laras dengan cara sederhana, namun Laras masih meragukan hidupnya, meragukan keyakinan dirinya terhadap cinta.

            Memandang sekelumit cerita diatas, tergambar bahwa judul dari harmoni yang ingin dimainkan adalah mengenai Cinta, tentu harmoni semacam ini telah menjadi ikon bagi seluruh umat manusia. Ini menjadi kekuatan dan Kelemahan dalam Film garapan Dwi Ilalang ini, Ide dasar dari Film ini kuat, dan secara alur logika baik, dan hubungan antar karakter dapat tergambar jelas dalam film ini. Tapi karena tema film ini Universal, maka perlu pengembangan karakter, akting yang prima, dan dialog yang kuat diantara pemain.     Karakter dalam film ini khususnya Laras dan Beno, belum dapat dimainkan dengan baik oleh kedua pemeran utama, aktingnya terlalu datar, dan pendalaman karakternya kurang kuat, sehingga ekspresi terkesan datar, kondisi ini membuat kita tidak bisa menyelami lebih jauh mengenai karakter yang ada. Ini berakibat pada beberapa adegan yang seharusnya bisa mencuri emosi penonton menjadi hambar. Karakter yang linier membuat Laras terjebak dalam ketakutannya akan cinta, dan situasi ini diulang terus menerus dalam film Situasi ini diperparah dengan dialog yang lemah dan terasa kikuk. Untunglah Aliang mampu menjadi karakter penyelamat, namun ini belumlah cukup untuk menyelamatkan film ini.

            Sinematografi yang rapi menjadi nilai lebih dari film ini, meski dalam beberapa adegan terkesan dipaksakan. Amat sayang film yang telah baik dalam mengolah cerita, dilemahkan oleh permainan akting dan dialog. Kondisi ini menjadikan Harmoni Cinta yang ingin dibawa menjadi hambar dan miskin emosi, kita hanya disuguhi gambar-gambar visual yang apik.

Movie

July 29th, 2007 by sofyari

Gw sebenarnya lagi bingun mana yang harus gw pilih ngerjain blog gw di Word press atau kah blog yang ada di Friendster..menurut lu yang mana, yang jelas kelihatannya gw musti banyak nulis nih..bniar gak ketinggalan moodnya

Kamulah Satu-Satunya : Bertepuk Sebelah Tangan

July 13th, 2007 by sofyari

Kamulah Satu-Satunya : Bertepuk Sebelah Tangan
Email :b354r@yahoo.com
Oleh Sofyari Rahman

    Harusnya dikasih judul Pupus dan Kosong, biar lengkap jadi judul kritik dan resensi ini, bernuansa Dewa banget, Tapi setelah dipikir lebih baik menggunakan penggalan lirik. Lagi pula sepanjang film ini memang bercerita tentang sepenggal lirik yaitu "Hidup adalah Perjuangan". Dan hasilny adalah sepenggal lirik juga yaitu "Bertepuk Sebelah Tangan", maksudnya?, mungkin gak tepuk tangan dengan sebelah tangan, pasti kita menjawab tidak. Tepuk tangan menyimbolkan bahwa kita suka senang, memuji, bangga, dengan sebuah karya, atau kejadian. Jadi anda bisa simpulkan sendiri film ini seperti apa.
    Kamulah Satu-satunya bercerita tentang Indah (Nirina Zubir), yang merupakan fans berat grup band Dewa. Terobesi dengan Grup Band ini, Indah mengikuti undiuan untuk tur bareng grup band kesayangannya, namun keberuntungan belum berpihak padanya, dengan dibantu Bowo (Junior) Indah berusaha untuk nekad pergi ke Jakarta untuk datang ke konser grup band kesayangannya. Meski hal ini dilarang keras oleh Abah Daim (Didi Petet). Dan ini menjadi awal petualangannya.
    Menonton dengan hanya segelintir orang saja, paling tidak separuh penuh, sementara studio sebelah penuh banget, hanya sedikit tawa yang  terdengar dari ruangan itu, itupun karena kemunculan cameo, seharusnya lebih banyak tertawa, tapi karena dipaksa dengan adegan slapstik jadinya hambar. Stereotipe permainan kota dan desa menghiasi film ini, mengingatkan kita pada beberapa film yang mencoba membangun image yang sama, seperti "Kejar Jakarta", sayangnya justru ini yang menjadi   kelemahan terbesar dalam film ini.
    Padahal jelas banget kalo Televisi saja sudah masuk, paling tidak mereka sudah memiliki imaji mengenai jakarta, dan karakter yang ada juga memperlihatkan bahwa ia memiliki pendidikan yang baik. Apa iya kalo ada Anak SMA (Sekolah Menengah Atas) nun jauh di pelosok jawa dan tinggal di sebuah kota kabupaten dengan catatan bahwa di kabupaten tersebut telah TMD (Televisi Masuk Desa), bahkan bukan hanya telesbisi loka,muncul pertanyaan-pertanyaan bodoh dalam dirinya mengenai kota Jakarta, ini yang membuat film menjadi hambar  dan maaf terkesan orang desa itu semuanya kampung dan udik bertanya hal yang konyol seperti "Kok patungnya bisa di atas sana??".
    Penggambaran perjuangan yang harusnya luar biasa, ternyata menjadi luar binasa, perjuangan harusnya digambarkan dengan kerja keras, bukan penggambaran ketidakberuntungan yang basi, ditipu orang, sempat nyasar, kecopetan, dan dialog yang memutar balikkan logika."Ini Jakarta, kalo mau Nolong orang harus mikir 17 Kali", kalo begitu kenapa dia mau menolong. Dan seperti biasa si Gadis desa berambut merah buceri, dengan polosnya percaya dengan orang tersebut.
    Permasalahan adegan yang terkesan slapstik pada saat klimaks dari petualangan membuyarkan perjuangan yang dengan baik telah dibangun di awal film, dengan kecerdikan dan kebaikan. Amat disayangkan eksekusi dari alur film ini
    Film ini bukan berarti tanpa pesan. Salah satu Pesan yang ingin dibangun memang baik Jangan Rusak Dirimu dengan Acara Jual Mimpi,maksudnya ini salah satu pesannya cuman sayang kalimat ini hanya menjadi tempelan, karena bukan itu yang utama, yang paling penting adalah kita harus mengejar mimpi yang kita punya apapun rintangan, meski rintangan itu terkesan bodoh dan aneh.
    Dan yang bikin lebih bingung lagi kenapa akhir-akhir ini jadi rame yang namanya Cameo ya, apa humor sekarang lebih menyenangkan bermain dengan Cameo, tau jangan-jangan Cameo sedang menjadi Trend, nanti bisa jadi sebuah film penuh dengan cameo aja.

Die Hard 4

July 10th, 2007 by sofyari

Hari ini Indonesia berhasil menang melawan Bahrain…Senangnya Well Besok pagi direncanakan gw akan menonton film harry Potter The Order Of Phoenix jam 9 pagi Di Setiabudi 21 dan ini yang membuat gw tambah Senang hahahah..

Well judul diatas sedikit akan menggambarkan apa yang akan gw tulis udah Ah males..

Kebab Connection

June 11th, 2007 by sofyari

Kebab Connection : Kungfu
Fighting with Yourself

(Kineforum/TIM 21/10 Juni
2007/14:15)

 

Film Jerman bukanlah
film yang populer di Indonesia, mungkin salah satu yang fenomenal
adalah Downfall, yang bercerita tentang hari-hari terakhir Hitler.
Film ini mendapatkan banyak apresiasi dari pecinta film Indonesia.
Namun selain film tersebut masih banyak film-film Jerman  yang
bermutu, namun karena keterbatasan pilihan studio bioskop yang kita
miliki membuat kita sangat sulit untuk dapat menontonnya. Kecuali
kita meminjam dari Pusat Kebudayaan Jerman tentunya. Tetapi Kineforum
dengan program penayangan film yang alternatif dan bermutu, mampu 
memuaskan sedikit dahaga soal Film Jerman. Meski masih terbatas.

Film yang akan dibaha
kali ini adalah film yang bertajuk Kebab Connection,
film yang  diproduksi tahun 2005. Disutradarai oleh Anno Saul, dan
pada tahun yang sama film ini mendapatkan penghargaan pada Ljubljana
International Film Festival dengan kategori Audience Award. Dan juga
nominasi dalam German Camera Award.

Ibo alias Ibrahim, punya
obsesi untuk membuat film kungfu Jerman yang pertama, dan ia wujudkan
harapan tersebut dengan awalan membuat sebuah Iklan dengan tema
kungfu, untuk Pamannya. Iklan tersebut untuk mempromosikan restoran
turki milik pamannya. Meski hasilnya tidak disukai pamannya. Tetapi
diluar dugaan justru  iklan tersebut menjadi fenomena di Daerah
tersebut. Restoran pamannya pun mulai ramai dikunjungi.  Dengan penuh
keyakinan Ibo pun berusaha mendekati seorang produser film, tapi apa
mau dikata produser tersebut masih belum dapat di yakinkan. Dengan
penuh kecewa Ibo harus memupus harapannya, ditengah kekecewaannya, ia
mendapat sebuah kejutan, Pacarnya Titzi telah hamil, dan Ibo akan
segera menjadi Ayah. Kondisi ini membuat Ibo sangat ketakutan dan
sangat bingung, bisakah Ibo mengatasi masalahnya dan kemudian
mendapatkan apa yang dia impikan?.

Film dengan alur yang
sangat sederhana ini menggambarkan kelimpungan dan kebingungan
situasi yang dihadapi oleh Ibo, bagaimana ia dituntut untuk dapat
bertanggung jawab terhadap mimpi dan Tindakannya.

Alurnya sendiri sangat
menarik, setiap konflik dalam permasalahan Ibo, selalu muncul ide
-ide baru yang segar, keinginan dia untuk menjadi ayah yang baik
berusaha ia wujudkan dengan semaksimal mungkin, sampai-sampai ia
mengikuti kursus untuk mengurus bayi. Dalam pencariannya inilah
banyak unsur  komedi yang kental dalam prosesnya. Perkembangan
karakter Ibo, kedewasaan dan ketidakdewasaannya dapat terlihat dengan
baik, konflil kultural yang harus ia hadapi menjadi permasalahan
tersendiri.

Namun sayang film ini
terlalu Ibo Sentris, sedangkan peranan Titzi sang pacar, tidak
tergarap dengan baik, Titzi sebagai tokoh penting terlalu linier
dalam hal karakterm bahkan terkesan pasrah, sebenarnya dia punya
peran tersendiri dalam film ini yaitu, keinginan dia untuk
mendapatkan peran dalam Drama Romeo dan Juliet, tapi Anna Soul kurang
mengangkat hal ini. Bahkan terjadi kebingungan dalam menempatkan
posisi Titzi.

Tetapi untunglah
kelemahan ini dapat ditutupi oleh akting dari para pemerannya. Dan
Film ini mencoba memberi tahu satu hal, kita tidak akan pernah tahu
bila belum mencoba.

Ocean 13: My Review

June 7th, 2007 by sofyari

Ocean 13: Balas Dendam
yang Manis

(Plaza Senayan XXI/11:45/7
Juni 2007)

Satu hal soal film ocean
the series adalah metode perampokannya yang unik dan menegangkan, dan
sebenarnya bila kita menonton seriesnya kita harus bisa memisahkan
masing-masing sekuel untuk berdiri sendiri, meski karakternya sama
dan terkesan melanjutkan sebelumnya. Tetapi masing-masing film
memiliki ciri khas tersendiri. Dan disini yang membuat film ini
begitu menarik untuk ditonton, Seperti kata Danny Ocean dalam film
ini “Kita udah mencoba cara tersebut untuk kasino mu, tapi kita
tidak mungkin menggunakan cara yang sama” artinya setiap film
selalu ada hal yang baru.

Sedikit mengingat film
yang terdahulu. Film ini bercerita tentang kawanan perampok yang ahli
di bawah pimpinan Danny Ocean, bila di Film yang pertama yaitu Ocean
11 kita disuguhi cerita perampokan dengan satu target, dan dengan
metode yang canggih, rapi dan bersih. Di Ocean 12 kita disuguhi
sebuah pertarungan antara perampok, untuk mendapatkan gelar perampok
terbaik dunia, dimana dalam film ini terjadi pertempuran antara
perampok individu melawan kelompok. Yang menjadi dominan dari setiap
filmnya adalah kecerdikan dan kejelian dalam mengambil langkah. Dan
seperti bisa kecerdikan dan kejelian ini menjadi Menu Utama dari Film
ini.

Dalam Sekuel yang ketiga
ini Ocean masih di sutradarai Steven Sorderbergh, dan masih
dibintangi oleh anggota-anggota yang lama, cuman kali minus pemeran
wanitanya. Jadi gak perlu bingung kalo kesannya nih film jadi film
yang cowok banget.

Ocean 13 bercerita
tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Willy Bank (Al Pacino)
terhadap Reuben , akibat pengkhianatan tersebut Reuben jatuh sakit.
Dan karena hal itu Kelompok Ocean pun kembali berkumpul untuk
membalas perlakuan Willy Bank. Namun kali ini mereka dihadapkan pada
kondisi keamanan yang serba digital dengan perangkat Super Komputer
bernama GRECO. Komputer ini mampu mendeteksi segala macam bahaya. Dan
hampir mustahil untuk ditembus, kecuali komputer tersebut merasa
terancam. Dan cara yang paling mungkin adalah membuat gempa bumi.
Namun cara ini tidaklah mudah karena dibutuhkan Bor Bumi yang super
besar untuk membuat getaran. Bor yang pertama mereka gunakan ternyata
mengalami kerusakan. Dan untuk membeli Bor yang baru mereka
membutuhkan bantuan pinjaman dari Terry Benedict.

Kali ini mampukah mereka
mewujudkan balas dendam mereka, tonton dan perhatkan filmnya.

Kali ini penangangan
yang lebih kompleks dan juga cerita yang lebih sederhana, dengan
membuat alur fokus ke satu titik, membuat film ini sederhana bertutur
soal permasalahan yang mereka hadapi.

Perampokan menjadi hal
yang sangat rumit, karena mereka musti bertarung dengan Buruh-buruh
meksiko, hingga kelicikan  dan keangkuhan Willy Bank. Kekuatan utama
dari Film ini adalah banyak hal kreatif yang terjadi di lapangan.
Yang muncul karena kegagalan rencana, ataupun kendala yang mereka
hadapi. Pemanfaatan situasi dan psikologi manusia, sangat menonjol.
Kecanggihan masih ada, tetapi Ocean membuktikan secanggih apapun
teknologi pasti punya kelemahan, kalo gw jadi Danny gw bakal bilang
ANALOG RULES!!!!!!

Film ini memang cowok
banget, is about revenge, and its a very sweet revenge. Bukan berarti
film ini gak punya kelemahan, tetap saja buat gw peran Al Pacino
datar banget, kurang menggigit. Dia tidak menggambarkan kharisma
seorang pemilik kasino besar. Seakan dilahirkan sebagai penjahat.
Kurang kuat karakternya. Tapi film ini tetap menghibur ditambah
dengan adanya porsi komedi yang terasa pas. Dan ini tidak
menghilangkan karakternya. Bosan bisa menjadi kata yang anda ucapkan,
tetapi cobalah menonton dan nikmati setiap kecerdikan mereka.
Benar-benar manis banget..GULA KALI!!!

Film ini Bintang 4/5

Shrek 3

June 5th, 2007 by sofyari

Shrek 3 : Prince Charming Strikes Back
Oleh Sofyari Rahman
(Setiabudi 21/5 Juni 2007/10:30)
Email: b354r@yahoo.com

    William Steig tidak akan menyangka bahwa tokoh yang dia ciptakan bakal menjadi salah satu tokoh paling fenomenal dalam sejarah film Animasi. Shrek telah membuktikan untuk konsisten dengan waktu edarnya yaitu setiap 3 tahun sekali, diawali pada tahun 2001 kemudian 2004 dan tentu saja 2007. Menurut kabar rencananya akan dibuat shrek yang ke 4 dan ini merupakan sekuel terakhir dari Shrek. Film animasi 3D dimensi buatan Dreamworks Pictures ini menjadi Animasi terlaris dalam sejarah perfilman Animasi Dunia. Dengan cerita yang mengambil latar belakang dongeng-dongeng klasik yang kemudian diparodikan memang sangat memikat, dan ini yang menjadi daya tarik yang luar biasa untuk menonton film ini.

    Dengan Sutradara Chris Miller dan masih dengan bintang-bintang yang setia menemani dari mulai Shrek yang pertama hingga sekarang, seperti Mike Myers, Eddie Murphy, Antonio Banderas, Cameron Diaz dan lain-lain. Membuat karakter dari masing-masing tokoh sangat melekat dalam benak kita. Dan kali ini Monster Hijau besar dari Rawa menonjolkan cerita yang jauh lebih kuat dan kompleks tetapi tetap, dan tetap sangat amat menghibur.

    Melanjutkan film ke 2. Shrek dan Fiona, harus menghadapi kenyataan bahwa mereka harus menjadi raja dari Kerajaan Far Far Away, karena Raja Katak sekarat akibat sakit. Di tengah segala perasaan yang berkecamuk, Shrek merasa bahwa menjadi raja bukanlah pilihan hidupnya, ia lebih menginginkan hidup di rawa, kampung halamannya.

    Namun untuk itu ia harus menemukan pengganti dari posisinya, berdasarkan wasiat Raja Katak, maka selain Shrek, hanya Arthur sepupu Fiona yang dapat menggantikan posisinya bila dia telah mangkat.

    Mendapat kesempatan tersebut berangkatlah Trio Edan dari Far Far Away, Donkey, Shrek dan tentu saja Puss In Boots. Untuk menjemput Arthur, tetapi tanpa mereka sadari Prince Charming sudah menyusun rencana untuk merebut kembali kerajaan Far Far Away dari Shrek untuk mendapatkan “Happily Ever After”

    Dengan usaha keras Shrek akhirnya bisa membujuk Arthur untuk kembali ke kerajaan Far Far Away dan menjadi raja. Pada saat mereka tiba di Kerajaan mereka telah mendapati bahwa kerajaan telah kacau balau dibawah kepemimpinan Prince Charming. Dan mereka berusaha untuk merebutnya kembali. “Mari Bung Rebut Kembali”

    Film ini menawarkan banyak sekali tokoh-tokoh dongeng terkenal, seperti Snow White, Cinderella,Pinokio, Red Riding Hood, 3 Babi, dan semuanya menampilkan alter ego mereka masing-masing dengan gaya yang sangat kocak. Patut diacungi jempol bagi penulis Andrew Adamson, yang untuk kali ini membawakan cerita yang penuh dengan pengembangan karakter dan juga permainan aksi yang luar biasa, dan tak lupa dialog yang sangat luar biasa. Terutama pada saat Pinokio berusaha agar tidak ketahuan bahwa dia berbohong.

    Alur cerita yang padat dan rapat membuat setiap adegan tidak ada habisnya menimbulkan senyum, dan karakter Shrek pun pada film ke 3 ini makin matang dengan permasalahan yang makin kompleks. Meski begitu dengan banyaknya karakter amat disayangkan salah satu karakter sentral yang baru yaitu Arthur, sangat jauh dari harapan, hampir tidak kesan dari karakter ini, sebetulnya kesempatan baginya untuk dikembangkan cukup banyak, tetapi sayang adegan menjadi klise dan membosankan.

    Dengan sedikit kekurangan yang anda Shrek pantas untuk menjadi competitor bagi Triple Thread Match antara Shrek 3 Vs Spiderman 3 Vs POTC 3. Sebuah Film keluarga yang luar biasa.