Archive for January, 2007

Picture Perfect

Saturday, January 6th, 2007

Hmmm hari ini cukup padat aktivitas gw..dari pagi gw ke tempat koh Aming biasa ngurus cetakan, terus siangnya gw ketempat walimahannya Ican, Ican ini Koordinator Bidang Ekonomi BTA Group, yah boleh dibilang boss gw di BTA, habis dari situ pulang ke rumah, terus berangkat lagi ke tempat koh Aming, Setelah kealr urusan gw di Koh Aming, gw pergi ke Kwitang buat hunting buku.

Hmmm Gw beli cukup banyak buku disana total ada 5 buku, tapi 2 buku diantaranya bakal hadiah buat temen gw..Trus habis ITU GW KE PAMERAN WORLD PRESS PHOTO……aNd the story begin

World Press Photo pertama kali diadakan pada tahun 1955 oleh sebuah lembaga nirlaba yang memiliki tujuan untuk memberikan stimulus kepada jurnalisme foto dan juga adanya transfer pengetahuan kepada khalayak, satu hal yang pasti dalam 51 tahun penyelenggaran tema kemanusiaan selalu menjadi pemenang, dan tahun ini pun tema kemanusiaan memenangkan penghargaan World Press Photo. kemanusiaan disini lebih ke arah bencana dan peperangan.

Dengan adanya World Press Photo seakan ingin menyadarkan kepada seluruh dunuia bahwa masih bayk ketertinggal dan penderitaan di dunia ini yang harus dituntaskan, ada sebuah foto dalam pameran tadi yang memperlihatkan betapa kontrasnya permasalahan berlian di dunia. Di Sierra Leone, terjadi perang saudara yang mematikan akibat perburuan berlian ini, sementara di New York para kalangn Elite berpesta memamerkan berlian merke, sungguh ironi yang sangat menyedihkan. Permasalahan ini pernah disinggung oleh Kanye West dalam lagunya yang bertajuk Diamond From Sierra Leone, lagu ini menggambarkan kritikny dia kepada para artis hip-hop dengan gaya hidup Bling-bling mereka.

Seandainya mereka tahu bahwa berlian yang mereka pakai adalah berlian hasil dari darah orang2 yang tertindas mungkin akan membuat mereka berpikir ulang untuk mengenakannya.

Oya tadi juga ada sedikit workshop singkat mengenai foto grafi disitu digambarkan bahwa kalo kita melihat sebuah foto jangan bertanya teknis bagaimana pengambilan foto tersebut tapi tanyakan apa makna dibalik foto tersebut, gampangnya foto itu mau bercerita apa??.

Memang susah menerapkan hal itu cuman benar juga apa yang disampaikan, dan dari 51 tahun perjalanan World Press Photo, memperlihatkan bahwa rasa kemanusiaan selalu akan menjadi topik utama dari masalah yang dihadapi dunia ini…

Lewat Djam Malam

Friday, January 5th, 2007

Film tersebut diatas adalah garapan dari Bapak Film Indonesia Usmar Ismail, film tersebut dipuji oleh para kritikus sebagai film yang baik secara kualitas dan layak memenangkan festival Film Indonesia pada kala itu namun apa mau dikata yang menang justru film lain.

Ketidakmenangan ini menimbulkan kontroversi di masyarakt film, banyak yang menghujat FFI, namun apa mau dikata juri sudah berkat lain dan piala sudah diberikan.

Menurut gw bila hal ini diakitkan dengan permasalahan film Indonesia, gw sepakat dengan adanya sebuah festival lain diluar FFI, ini paling tidak akan memberikan sebuah perbandingan mengenai film yang baik itu seperti apa, kalo kita lihat sebenarnya sudah ada beberapa festifal film alternatif, namun mungkin gaungnya dan namanya belum begitu kuat di mata para penggelut film. Semisal MTV Indonesia Movie Award, Festival Film Bandung, JIFFEST (Dimana ada Pengahrgaan Film Indonesia terbaik).

Bila festival yang sudah ada belum cukup untuk mengangkat hal tersebut, mari para kritikus dan para praktisi film yang kurang sepakat dengan keberadaan FFI buat sebuah Festival film baru ataupun award baru entah apa namanya, namun dengan tujuan menyemarakkan dunia perfilman dalam semangat yang lebih kompetitif, bukan sebagai tandingan atau dalam bahasa yang lebih keren antitesis dari FFI.

Gw ngelihat keberadaan dari festival alternatif ini penting banget, nah menurut gw gak perlu dengan modal yang gede banget, yang penting brand positioningnya kuat. Ini paling gak membuat para pembuat film untuk menunjukkan kualitasnya dengan semaksimal mungkin.

Kualitas Bukan Berarti Mahal

Memang terkadang kita bisa saja mengasosiasikan kualitas dengan nama sutradara tertentu, dan kadang sutradara tertentu ini bayarannya mahal banget, yah pada akhirnya produser film harus berhitung dengan pasar.

Padahalnya Film bagus ini gak musti mahal, yang penting alur dan logikanya kuat. Nah 2 hal ini yang banyak sutradara di Indonesia kerap terlupa inilah yang membuat sebuah film menjadi lemah kualitasnya, jadi saran gw perbaiki logika!!!

Aktivitas gw hari ini alhamdulillah sampai dengan gw menulis Blog ini berjalan lancar,dari mulai ke puskesmas, trus ke koh Aming, trus ke kampus FGD buat Pilrek,  kecuali beli buku buat hadiah ulang tahun temen gw, gak jadi gara2 toko bukunya pada tutup…oya rencananya besok gw mau ke pameran World Press Photo..terakhir besok cuy..Musti Sempetin!!!

Napoleon Dynamite

Thursday, January 4th, 2007

Film ini gila asal tahu aja film ini berbujet murah banget tapi bisa memenangkan penghargaan dari MTV, Film ini sendiri bercerita tentang…Hmmm Tentang apa ya..Film ini bercerita tentang Perjuangan Napoleon dan temannya Pedro untuk menjadi presiden di sekolahnya, perjuangan mereka sebagai underdog, patutu diacungi jempol..

Hmmm tadi pagi gw dapat undangan Preview film terbarunya Karl Urban yang bertajuk PATHFINDER ceritanya kayak gimana tunggu aja resensi gw di layarperak.com, oya tadi waktu nonton preview gw juga ketemu sama Noorca Massardi, dia ini Ketua Dewan Juri FFI 2006, yang kemarin sempat heboh, itu meski diskusi gw dengan beliau terasa sangat singkat, cuman paling gak menambah wawasan gw soal film Indonesia.

Satu hal yang harus kita bangga terhadap Film Indonesia, adalah semenjak 1926-sekarang, belum pernah sekalipun ada tahun tanpa produksi film indonesia, ini menunjukkan kalo film indonesaia tidak pernah mati, film indonesia bakal selalu berkembang..pengen nulis nih opini di layar perak…

Oya tadi sore juga ada diskusi tentang Tatib Pemilihan Rektor..Diskusi ini bakal dilanjut besok…

Ekskul

Wednesday, January 3rd, 2007

    Beberapa Hari ini sebenarnya ada sebuah kerisauan besar dalam diri gw,kerisauan yang timbul karena sebuah kata EKSKUL, beberapa waktu lalu dalam situs www.layarperak.com muncul sebuah ucapan Duka Cita yang menyatkan bahwa Film Indonesia tidak lebih dari sebuah EKSKUL.
    Masalah ini muncul manakala EKSKUL sebuah Film garapan Indika Entertainment. memenangkan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2006. Bayangkan saja FILM ini bisa mengalahkan film berbagi suami.
    Film ini sebetulnya sangat tidak layak untuk memenangkan gelar tersebut, namun apa mau dikata dewan juri berkata lain.  Tadi siang digelar konferensi pers di teater kecil TIM (sebenarnya gw diundang sama bang Ekky Manjaya untuk dateng, cuman karena gw ngajar jadi gak bisa -pen) oleh masyarakat Film Indonesia yang menyatakan penolakan terhadap hasil FFI, bahkan Tora Sudiro mengembalikan piala citra yang dimenangkan olehnya pada saat FFI 2004 yang lalu.
    Filmnya sendiri konon didasarkan atas kisah nyata, namun pendasaran tersebut dijabarkan secara salah kaprah, alur cerita yang tidak jelas, secara logika lemah..yang jelas film ini tidak layak.
    Kontroversi semacam ini bukan kali pertama muncul di FFI, pada tahun 1977 pemenang FFI kala itu juga menuai protes. Kejadian ini paling tidak memberikan sebuah gambaran bahwa harapan kita untuk munculnya film Indonesia yang makin kuat secara kualitas bisa jadi pupus.
    Gw berharap banget bahwa booming Film Indonesia yang saat ini sedang melanda tidak menjadikan para kalangan film menjadi orang yang pragmatis, contohnya Film Horror masih mendominasi, FIlm ABG juga masih banyak. Gw bukannya anti terhadap film tersebut, tetapi kebudayaan kita terlalu kaya untuk dipersempit, banyak yang bisa digali oleh sineas film kita…jangan serahkan diri kita kepada komersial..Komersial boleh tetapi kekuatan dan kualitas ide juga harus diperhatikan