Archive for February, 2007

Flags Of Our Fathers

Thursday, February 8th, 2007

Flags Of Our Fathers : Mengkonstruksi Makna Pahlawan
Oleh : Sofyari Rahman
Email : b354r@yahoo.com

Film besutan sutradara Clint Eastwood ini menggambarkan kondisi The Battle Of Iwo Jima sebuah peperangan yang sangat legendaris dan terkenal dalam sejarah marinir Amerika Serikat bahkan dunia. Clint Eastwood menggunakan konsep penggarapan yang menggambarkan kedua pelaku penting dalam peristiwa ini. Sudut yang pertama dari Sudut Penyerang Yaitu Amerika Serikat dan Sekutunya, bagian ini diwakili oleh film yang bertajuk Flags of Our Fathers yang diangkat dari sebuah buku berjudul sama karangan James Bradley. Sementara Sudut yang kedua dari Sudut yang bertahan yaitu Jepang, bagian ini diwakili oleh Letters From Iwo Jima, yang namanya diambil dari surat-surat yang dikirim oleh pasukan jepang yang berada disana.
Penggambaran dua sudut pandang ini memang bukanlah hal yang mudah,mengingat riset sejarah yang harus dilakukan, harus mencakup kedua belah pihak, dan juga proses penggarapan di lapangan tentu menjadi tantangan tersendiri. Ada fakta menarik mengenai pembuatan kedua film ini. Fakta tersebut adalah, kedua Film menggunakan bintang Film yang sama sekali berbeda, dan Tidak ada satu pun aktor yang bermain dalam kedua film.Berarti Film ini disuting secara terpisah.
Resensi kali ini akan membahas mengenai film ini dari sudut Amerika Serikat yaitu Flags Of Our Fathers, sebelum membahas lebih lanjut, perlu kiranya kita melihat sejarah dari peristiwa yang dianggap sebagai pertempuran paling sengit dalam sejarah perang Pasifik.
Perang Iwo Jima
Iwo Jima adalah sebuah pulau di daerah selatan Jepang yang berarti “Pulau Sulfur”. Pulau yang berukuran 21 Km-persegi ini memiliki sebuah gunung berapi yang sudah tidak aktif Gunung Suribashi, secara topografi pulau ini memiliki hamparan pasir vulkanik yang sangat luas menutupi seluruh badan pulau. Kondisi topografi ini sangat ideal bagi Jepang untuk kemudian membuat Basis pertahanan yang berbentuk Gua dan Terowongan bawah tanah. Pulau ini sangat penting untuk dipertahankan karena Jepang membutuhkan pulau ini sebagai pertahanan dan juga sebagai lokasi logistik untuk kapal Jepang. Dan Sekutu beranggapan bahwa Pulau ini akan menjadi gerbang untuk menuju Jepang.
Dengan segala persiapannya yang sangat matang dari kedua belah pihak. Maka pada tanggal 2 Februari 1945 pertempuran pun dimulai. Perang yang dahsyat terjadi di Pulau ini, Sekutu menargetkan dalam waktu 3 hari pulau ini dapat dikuasai, namun tanpa diduga perlawanan yang luar biasa dari pasukan Jepang yang dipimpin Oleh LetJen Tadamichi Kuribayashi memaksa Sekutu harus bertempur selama satu bulan lamanya sebelum berhasil memenangkan perang ini. Korban mencapai 18.000 pasukan Jepang gugur di medan Perang, dan 216 berhasil ditangkap. Sementara dari pihak Sekutu sebanyak 7000 tentara gugur. Meski Sekutu “hanya” kehilangan 7000 orang,namun korban luka-luka dari pihak sekutu mencapai 26.000 orang.
Flags Of Our Fathers
Film Flags Of Our Fathers tidak menjadikan perang ini menjadi alur utama, namun perang menjadi salah satu dari tiga alur yang mewarnai film yang berdurasi lebih dari 2 jam ini. Tiga Alur tersebut adalah kondisi saat perang, pasca pertempuran Iwo Jima dan pasca perang. Inti dari alur film ini adalah sebuah peristiwa dalam perang tersebut yang sangat fenomenal, yaitu berdirinya bendera Amerika di Iwo Jima. Peristiwa ini membuat John “Doc” Bradley (Ryan Phillippe), Ira Hayes (Adam Beach), dan Rene Gagnon (Jesse Bradford) tiba-tiba menjadi pahlawan karena foto tersebut menggambarkan heroisme dan semangat dari perang. Dan karena hal tersebut, pemerintah Amerika meminta mereka untuk mengajak masyarakat Amerika menyumbang untuk perang. Mereka pun berkeliling seluruh negeri untuk mengkampanyekan hal ini. Namun kenangan mereka akan situasi perang dahsyat yang mereka hadapi di Iwo Jima dan beratnya beban yang harus mereka tanggung akibat julukan pahlawan tersebut, membuat perjalanan hidup mereka menjadi tidak mudah.
Secara jalan cerita film ini menginginkan memberikan gambaran yang utuh terhadap konflik yang dihadapi dalam diri ketiga tokoh tersebut, dengan alur yang campur, membuat film ini sangat kuat dalam proses editing. Dan tentu saja, seluruh rangkaian film ini tidak kehilangan fokus dari tema sentral yang diangkat dari sejak awal film ini bermula.
Perkembangan karakter dari masing pemain, sangat terasa. Kepahitan dan kegelisahan yang mereka rasakan akibat sanjungan yang sangat berlebihan. Ketakutan yang mereka alami dalam peperangan. Membuat kita perlu mengkonstruksi makna pahlawan. Pahlawan adalah sebutan kita untuk orang lain yang berjasa, bukan sebuah sebutan yang sangat diidamkan, bahkan sebutan tersebut bisa menjadi beban bagi mereka yang mendapatkannya.
Proses perangnya sendiri memang digambarkan dengan sangat dahsyat dalam film ini dengan kondisi perang yang mengingatkan kita pada film Saving Private Ryan. Membuat perangnya memiliki tempat yang tepat. Bukan heroisme dan kepahlawanan yang biasanya kita lihat dalam film hollywood biasa, tetapi justru ketakutan selayaknya dalam neraka.
Film ini pun tidak luput dari kekurangan, konflik batin yang dialami oleh ketiga prajurit tersebut, kurang terasa secara emosi, hal ini karena ketiga alur yang ada membuat kita kehilangan fokus emosi dalam menonton, yang ada hanya sebuah empati sederhana. Ini memang resiko yang dihadapi bila sebuah film bermain dengan multiplot.

(Penulis adalah penikmat film, Tinggal di Jakarta)