Kebab Connection

Kebab Connection : Kungfu
Fighting with Yourself

(Kineforum/TIM 21/10 Juni
2007/14:15)

 

Film Jerman bukanlah
film yang populer di Indonesia, mungkin salah satu yang fenomenal
adalah Downfall, yang bercerita tentang hari-hari terakhir Hitler.
Film ini mendapatkan banyak apresiasi dari pecinta film Indonesia.
Namun selain film tersebut masih banyak film-film Jerman  yang
bermutu, namun karena keterbatasan pilihan studio bioskop yang kita
miliki membuat kita sangat sulit untuk dapat menontonnya. Kecuali
kita meminjam dari Pusat Kebudayaan Jerman tentunya. Tetapi Kineforum
dengan program penayangan film yang alternatif dan bermutu, mampu 
memuaskan sedikit dahaga soal Film Jerman. Meski masih terbatas.

Film yang akan dibaha
kali ini adalah film yang bertajuk Kebab Connection,
film yang  diproduksi tahun 2005. Disutradarai oleh Anno Saul, dan
pada tahun yang sama film ini mendapatkan penghargaan pada Ljubljana
International Film Festival dengan kategori Audience Award. Dan juga
nominasi dalam German Camera Award.

Ibo alias Ibrahim, punya
obsesi untuk membuat film kungfu Jerman yang pertama, dan ia wujudkan
harapan tersebut dengan awalan membuat sebuah Iklan dengan tema
kungfu, untuk Pamannya. Iklan tersebut untuk mempromosikan restoran
turki milik pamannya. Meski hasilnya tidak disukai pamannya. Tetapi
diluar dugaan justru  iklan tersebut menjadi fenomena di Daerah
tersebut. Restoran pamannya pun mulai ramai dikunjungi.  Dengan penuh
keyakinan Ibo pun berusaha mendekati seorang produser film, tapi apa
mau dikata produser tersebut masih belum dapat di yakinkan. Dengan
penuh kecewa Ibo harus memupus harapannya, ditengah kekecewaannya, ia
mendapat sebuah kejutan, Pacarnya Titzi telah hamil, dan Ibo akan
segera menjadi Ayah. Kondisi ini membuat Ibo sangat ketakutan dan
sangat bingung, bisakah Ibo mengatasi masalahnya dan kemudian
mendapatkan apa yang dia impikan?.

Film dengan alur yang
sangat sederhana ini menggambarkan kelimpungan dan kebingungan
situasi yang dihadapi oleh Ibo, bagaimana ia dituntut untuk dapat
bertanggung jawab terhadap mimpi dan Tindakannya.

Alurnya sendiri sangat
menarik, setiap konflik dalam permasalahan Ibo, selalu muncul ide
-ide baru yang segar, keinginan dia untuk menjadi ayah yang baik
berusaha ia wujudkan dengan semaksimal mungkin, sampai-sampai ia
mengikuti kursus untuk mengurus bayi. Dalam pencariannya inilah
banyak unsur  komedi yang kental dalam prosesnya. Perkembangan
karakter Ibo, kedewasaan dan ketidakdewasaannya dapat terlihat dengan
baik, konflil kultural yang harus ia hadapi menjadi permasalahan
tersendiri.

Namun sayang film ini
terlalu Ibo Sentris, sedangkan peranan Titzi sang pacar, tidak
tergarap dengan baik, Titzi sebagai tokoh penting terlalu linier
dalam hal karakterm bahkan terkesan pasrah, sebenarnya dia punya
peran tersendiri dalam film ini yaitu, keinginan dia untuk
mendapatkan peran dalam Drama Romeo dan Juliet, tapi Anna Soul kurang
mengangkat hal ini. Bahkan terjadi kebingungan dalam menempatkan
posisi Titzi.

Tetapi untunglah
kelemahan ini dapat ditutupi oleh akting dari para pemerannya. Dan
Film ini mencoba memberi tahu satu hal, kita tidak akan pernah tahu
bila belum mencoba.

Leave a Reply