Kamulah Satu-Satunya : Bertepuk Sebelah Tangan

Kamulah Satu-Satunya : Bertepuk Sebelah Tangan
Email :b354r@yahoo.com
Oleh Sofyari Rahman

    Harusnya dikasih judul Pupus dan Kosong, biar lengkap jadi judul kritik dan resensi ini, bernuansa Dewa banget, Tapi setelah dipikir lebih baik menggunakan penggalan lirik. Lagi pula sepanjang film ini memang bercerita tentang sepenggal lirik yaitu "Hidup adalah Perjuangan". Dan hasilny adalah sepenggal lirik juga yaitu "Bertepuk Sebelah Tangan", maksudnya?, mungkin gak tepuk tangan dengan sebelah tangan, pasti kita menjawab tidak. Tepuk tangan menyimbolkan bahwa kita suka senang, memuji, bangga, dengan sebuah karya, atau kejadian. Jadi anda bisa simpulkan sendiri film ini seperti apa.
    Kamulah Satu-satunya bercerita tentang Indah (Nirina Zubir), yang merupakan fans berat grup band Dewa. Terobesi dengan Grup Band ini, Indah mengikuti undiuan untuk tur bareng grup band kesayangannya, namun keberuntungan belum berpihak padanya, dengan dibantu Bowo (Junior) Indah berusaha untuk nekad pergi ke Jakarta untuk datang ke konser grup band kesayangannya. Meski hal ini dilarang keras oleh Abah Daim (Didi Petet). Dan ini menjadi awal petualangannya.
    Menonton dengan hanya segelintir orang saja, paling tidak separuh penuh, sementara studio sebelah penuh banget, hanya sedikit tawa yang  terdengar dari ruangan itu, itupun karena kemunculan cameo, seharusnya lebih banyak tertawa, tapi karena dipaksa dengan adegan slapstik jadinya hambar. Stereotipe permainan kota dan desa menghiasi film ini, mengingatkan kita pada beberapa film yang mencoba membangun image yang sama, seperti "Kejar Jakarta", sayangnya justru ini yang menjadi   kelemahan terbesar dalam film ini.
    Padahal jelas banget kalo Televisi saja sudah masuk, paling tidak mereka sudah memiliki imaji mengenai jakarta, dan karakter yang ada juga memperlihatkan bahwa ia memiliki pendidikan yang baik. Apa iya kalo ada Anak SMA (Sekolah Menengah Atas) nun jauh di pelosok jawa dan tinggal di sebuah kota kabupaten dengan catatan bahwa di kabupaten tersebut telah TMD (Televisi Masuk Desa), bahkan bukan hanya telesbisi loka,muncul pertanyaan-pertanyaan bodoh dalam dirinya mengenai kota Jakarta, ini yang membuat film menjadi hambar  dan maaf terkesan orang desa itu semuanya kampung dan udik bertanya hal yang konyol seperti "Kok patungnya bisa di atas sana??".
    Penggambaran perjuangan yang harusnya luar biasa, ternyata menjadi luar binasa, perjuangan harusnya digambarkan dengan kerja keras, bukan penggambaran ketidakberuntungan yang basi, ditipu orang, sempat nyasar, kecopetan, dan dialog yang memutar balikkan logika."Ini Jakarta, kalo mau Nolong orang harus mikir 17 Kali", kalo begitu kenapa dia mau menolong. Dan seperti biasa si Gadis desa berambut merah buceri, dengan polosnya percaya dengan orang tersebut.
    Permasalahan adegan yang terkesan slapstik pada saat klimaks dari petualangan membuyarkan perjuangan yang dengan baik telah dibangun di awal film, dengan kecerdikan dan kebaikan. Amat disayangkan eksekusi dari alur film ini
    Film ini bukan berarti tanpa pesan. Salah satu Pesan yang ingin dibangun memang baik Jangan Rusak Dirimu dengan Acara Jual Mimpi,maksudnya ini salah satu pesannya cuman sayang kalimat ini hanya menjadi tempelan, karena bukan itu yang utama, yang paling penting adalah kita harus mengejar mimpi yang kita punya apapun rintangan, meski rintangan itu terkesan bodoh dan aneh.
    Dan yang bikin lebih bingung lagi kenapa akhir-akhir ini jadi rame yang namanya Cameo ya, apa humor sekarang lebih menyenangkan bermain dengan Cameo, tau jangan-jangan Cameo sedang menjadi Trend, nanti bisa jadi sebuah film penuh dengan cameo aja.

Leave a Reply