Sang Dewi : Harmoni yang Tanggung
Sang Dewi : Harmoni yang Tanggung
Perlu kita ibaratkan bahwa permainan Tinju mirip dengan permainan musik, dia harus mengsinkronisasikan harmoni dalam tubuhnya untuk memainkan permainan dengan tujuan yang sederhana, menjatuhkan lawan. Dengan melodi yang pas, maka tarian di atas panggung akan menghibur, menggambarkan kepandaian dan kecerdasan para petinju. Mereka yang memiliki keyakinan dan mental juara akan menari dengan indahnya dan Keras, sedangkan yang lemah hanya akan terdiam tertunduk.
Harmoni inilah yang membuat tinju menjadi menyenangkan untuk ditonton, dan tentunya sebuah film juga membutuhkan kekuatan harmonisasi yang baik.
Sang Dewi bercerita tentang Beno (Volland Humonggio) pemuda bisu yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah sasana, Beno menyimpan obsesi menjadi petinju, namun karena keterbatasannya dalam berkomunikasi membuatny harus mengurungkan niatnya,meski begitu Aliang (Donny Alamsyah) selalu yakin Beno memiliki bakat menjadi petinju. Karena rasa sayang Aliang terhadap Beno, diam-diam Aliang melatih Beno. Suatu saat Aliang mengajak Beno untuk menonton pertandingan tinju gelap yang biasa dilakoninya. Namun sial bagi mereka berdua, Tempat mereka bertanding tiba-tiba sudah diintai oleh polisi, sehingga pertandingan itu bubar. Ditengah pelariannya Beno bertemu dengan Laras (Sabai Morscheck) dalam kondisi mengapung di atas air, setelah Laras ditolong oleh Berno, terkuaklah bahwa Laras bunuh diri lantaran ia merasa sudah tidak ada cinta lagi di dunia ini, dan seorang pelacur seperti dirinya tak pantas mendapatkan cinta.
Di tengah kegalauan hati Laras, Beno dengan caranya sendiri,berusaha menyakinkan Laras untuk semangat menjalani hidup. Beno berusaha menunjukkan rasa cintanya ke Laras dengan cara sederhana, namun Laras masih meragukan hidupnya, meragukan keyakinan dirinya terhadap cinta.
Memandang sekelumit cerita diatas, tergambar bahwa judul dari harmoni yang ingin dimainkan adalah mengenai Cinta, tentu harmoni semacam ini telah menjadi ikon bagi seluruh umat manusia. Ini menjadi kekuatan dan Kelemahan dalam Film garapan Dwi Ilalang ini, Ide dasar dari Film ini kuat, dan secara alur logika baik, dan hubungan antar karakter dapat tergambar jelas dalam film ini. Tapi karena tema film ini Universal, maka perlu pengembangan karakter, akting yang prima, dan dialog yang kuat diantara pemain. Karakter dalam film ini khususnya Laras dan Beno, belum dapat dimainkan dengan baik oleh kedua pemeran utama, aktingnya terlalu datar, dan pendalaman karakternya kurang kuat, sehingga ekspresi terkesan datar, kondisi ini membuat kita tidak bisa menyelami lebih jauh mengenai karakter yang ada. Ini berakibat pada beberapa adegan yang seharusnya bisa mencuri emosi penonton menjadi hambar. Karakter yang linier membuat Laras terjebak dalam ketakutannya akan cinta, dan situasi ini diulang terus menerus dalam film Situasi ini diperparah dengan dialog yang lemah dan terasa kikuk. Untunglah Aliang mampu menjadi karakter penyelamat, namun ini belumlah cukup untuk menyelamatkan film ini.
Sinematografi yang rapi menjadi nilai lebih dari film ini, meski dalam beberapa adegan terkesan dipaksakan. Amat sayang film yang telah baik dalam mengolah cerita, dilemahkan oleh permainan akting dan dialog. Kondisi ini menjadikan Harmoni Cinta yang ingin dibawa menjadi hambar dan miskin emosi, kita hanya disuguhi gambar-gambar visual yang apik.